Cara membuat kompos dari kotoran sapi.Mengolah kotoran sapi menjadi pupuk kompos merupaka salah satu cara untuk mengurangi limbah kotoran sapi. Selain sangat berfungsi untuk tumbuhan, hal ini punakan membantu kita dalam menghindari lingkungan dari pencemaran .Alasan pupuk kimia dapat merusak tanah,hala ini akan dapat membantu kita dalam mengurangi limbah, cara membuat pupuk kompos dari kotoran sapi ini sangatlah membantu kita dalam penambahan penghasilan.
Cara pembuatannya sangatlah mudah dan praktis untuk dilakukan.Untuk apa kita melakukan hal seperti ini? Dikarenakan dengan hal yang menurut kita biasa sajah atau hal yang sepele itu akan sanggat membawa dampak yang baik untuk linkungan sekitar dan juga kebersihan lingungan maupun kesuburan tanaman.Dan dari pendahuluan inilah ,Mungkin kita berpikir bahwa untuk apa kita mengelola kotoran sapi menjadi kompos,sedangkan kotoran sapi tersebut bisa kita biarkan sajah.Namun ternyata pemikiran kita selama ini salah yang menyebabkan kita tidak berkefikiran untuk mengelola kotoran sapi tersebut untuk menjadi kompos yang digunakan untuk menyuburkan tanaman.
Pengertian Kompos dari Kotoran Sapi

Kompos dari kotoran sapi adalah suatu hasil pengolahan yang diolah dari kotoran sapi untuk menjadi pupuk.Selain itu juga kotoran sapi merupakan salah satu bahan yang mempunyai potensi untuk dijadikan kompos. .Maka untuk itu pemanfaatan kotoran sapi ini sangat membantu kita agar tidak membeli pupuk lainnya.
Pemanfaatan limbah peternakan (kotoran ternak) merupakan salah satu alternatif yang sangat tepat untuk mengatasi kelangkaan dan naiknya harga pupuk kimia. Pemanfaatan kotoran ternak sebagai pupuk sudah dilakukan secara optimal pada daerah-daerah sentra sayuran, sayangnya masih ada kotoran ternak tertumpuk disekitar kandang dan belum banyak dimanfaatkan sebagai sumber pupuk. Keluhan sesaat terjadi kelangkaan atau mahalnya harga pupuk non organik (kimia) dapat diatasi dengan menggiatkan kembali pembuatan dan pemanfaatan pupuk kompos.
Cara Pembuatan Kompos Kotoran Sapi

Sering kita jumpai kotoran sapi yang ada di sekitar kita,Namun kadang kita menghiraukan sajah kotoran sapi tersebut, dikarenakan kita beranggapan bahwa kotoran sapi tersebut adalah suatu hal yang jorok dan kotor.akan tetapi dibalik itu semua kita mampu merubah kotoran sapi tersebut untuk menjadi sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi pertumbuhan tumbuhan. Dan dari hal seperti ini akan membantu kita dalam hal mengurangi pembelian pupuk – pupuk kimia lainnya. .Untuk itu,tentunya kalian pasti penasaran kan ,bagaimana sih pengolaan kompos dari kotoran sapi.Cara Membuat Kompos dari Daun Kering Yang Mudah
Bahan dan Alat Pembuatan Kompos dari Kotoran Sapi
Sebelum kita menuju ke cara pembuatan komposnya,terlebih dahulu kita siapkan terlebih dahulu bahan dan juga alatnya,agar memperlancar proses pembuatan tentunya.
- Kotoran sapi (yang bercampur urin sangat baik) sebanyak 80 kg
- Serbuk kayu/gergaji/sekam/jerami sebanyak. Jika potongan terlalu besar kita bisa memotongnya sesuai dengan ukurannya.
- EM4 yaitu bahan pemicu mikroorganisme untuk pengelolaan pupuk kompos sebanyak 250 ml (agar mengaktifkannya biasanya dicampur dengan air yang sesuai dengan aturan takaran pakai pada botol)
- abu dapur kurang lebih sebanyak 10 kg (jika ada)
- Kapur pertanian sebanyak 2 kg
- Cangkul
- Wadah besar
- Plastik besar atau terpal
Media Pembuatan Kompos dari Kotoran Sapi
Sebelum menuju ke proses cara pembuatan pupuk kompos dari kotoran sapinya, lingkungan tempat penyimpanan pupuk kompos juga perlu diperhatikan.
- Lokasinya pembuatan kompos haruslah terhindar dari paparan sinar matahari secara langsung
- lokasinya harus terhindar dari area yang ada genagan air apalagi air hujan, karena dapat menyebabkan proses pengomposan tidak berhasil
- Suhu dsisni janagan terlalu panas dan tidak terlalu dingin, dikarenakan suhu juga dapat mempengaruhi kehidupan mikroorganisme pemerosesan pupuk.
- Sirkulasi udara yang baik untuk menunjang berkembangan mikroorganisme dalam pupuk.
Cara Pembuatan Kompos dari Kotoran Sapi
- Langkah pertama yaitu kita campurkan semua bahan (kotoran sapi, serbuk kayu, abu sekam, dan kapur) menjadi satu di wadah atau tempat yang besar. Setelah bahan tercampur kemudian menutup campuran pupuk kompos tersebut dengan plastic atau terpal dan diamkan selama satu hari.mesin pencacah kompos
- Setelah satu hari, aduk-aduk dan balik pupuk kompos supaya sirkulasi udaranya baik ,dan tak lupa sambil beri atau siram sedikit demi sedikit EM4 yang sudah dicampur dengan air. untuk itu aduk semua bahan agar tercampur dengan rata,kemudian tutup kembali bahan pupuk kompos dan diamkan selama satu minggu
- Kemudian pengadukkan itu dilakukan setiap 3 hari sekali (atau 1 minggu sekali juga bisa). Proses ini membutuhkan waktu kurang lebih 3 – 4 minggu sampai pupuk kompos benar-benar dapat digunakan.
- Salah satu tanda saat mikroorganisme atau mikroba telah bekerja melakukan pembusukkan kompos yaitu suhu yang meningkat. Saat proses mengaduk dan dalam terpal terasa hangat berarti proses pembusukkan tengah berjalan
- Pada minggu ke 3 atau 4 dapat dicek kembali. Jika bahan pupuk kompos berwarna coklat kehitaman, tidak berbau menyengat, dan suhu tidak terlalu hangat maka pupuk kompos dari kotoran sapi siap dipakai.
- Jika merasa bahan pupuk kompos terlalu besar, pupuk tersebut dapat dpotong sesuai ukuran yang pas mengunakan alat yang manual sajah.
Berapa Lama Pembuatan Kompos Kotoran Sapi
Kompos merupakan hasil penguraian parsial yang tidak lengkap dari kualitas bahan campuran terhadap penggunaan bahan-bahan organik yang kemungkinan dipercepat secara artifisial oleh populasi terhadap berbagai macam mikrob dengan keadaan lingkungan yang hangat, basah, dan aerobik atau anaerobik (Modifikasi dari J.H. Crawford, 2003).
Sedangkan pengomposan yaitu sesuatu proses di mana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, pada tanaman-tanaman yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Membuat kompos merupakan sesuatu cara alami yang secara langsung dapat kita buat sendiri dan juga dapat mengontrol proses alami yang akan dilakukan kompos tersebut dalam pembentukannya.Proses pembuatan kompos ini melewati dari cara,membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, pengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan.Cara Membuat Kompos dari Daun Kering Yang Mudah
Kisaran waktu yang dibutuhkan dalam membuat kompos kurang lebih dua minggu hingga satu bulan.Kompos bisa terjadi dengan sendirinya, lewat proses alamiah. Namun, proses tersebut berlangsung lama sekali, dapat mencapai puluhan tahun, bahkan berabad-abad.Ternyata kebutuhan terhadap tanah yang subur sudah mendesak. Oleh karena itu, proses ini perlu dipercepat dengan bantuan manusia.kegunaan pupuk kompos
Kandungan Yang Terdapat Di Dalam Kotoran Sapi
Kelebihan pupuk kompos terletak pada kandungan bahan organiknya, termasuk asam humat dan asam fulfat, yang berfungsi untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Dalam jangka pendek penggunaan kompos akan memperbaiki sifat fisik tanah dan dapat menmbahkan aktivitas biologis tanah yang menyuplai sebagian kebutuhan tanaman akan unsur hara. Dalam jangka panjang aplikasi kompos akan mengembalikan kesuburan dan produktivitas tanah (Isroi & Yuliarti, 2009).
Kotoran sapi yang terdidri dari feses, urin, dan sisa pakan mengandung nitrogen yang lebih tinggi dari pada yang hanya berasal dari feses. Jumlah nitrogen yang akan diperoleh dari kotoran sapi dengan total bobot badan ± l20 kg (6 ekor sapi dewasa) dengan periode penumpukan kotoran selama tiga bulan sekali mencapai 7,4 kg.Penambahan ini dapat disetarakan dengan 16,2 kg urea (46 % nitrogen) (Setiawan, 2002).
a). Rasio C/N Bahan Baku
Rasio C/N yang efektif untuk pengomposan bertakaran antara 30:1 sampai 40:1. Mikroba memecah senyawa C sebagai sumber energi yang memakai N untuk sintesis protein. Pada rasio C/N di antara 30 sampai 40, mikroba memiliki cukup C untuk energi terhadap N untuk sintesis protein. Apabila rasio C/N terlalu tinggi, maka mikroba akan mengalami penurunan N untuk sintesis protein akan mengalami defomposisi berjalan lambat. Selama proses pengomposan ini rasio C/N akan terus menurun. Kompos yang sudah matang mempunyai rasio C/N-nya kurang dari 20 (Isroi & Yuliarti, 2009).
b). Ukuran Partikel
Aktivitas mikroba yang terjadi pada permukaan area dan udara. Permukaan area yang lebih luas akan mengalami peningkatan terhadap kontak antara mikroba dengan bahan organik sehingga proses pengomposan akan terjadi lebih cepat. Ukuran pertikel akan menentukan besarnya ruang antar bahan (porositas). Untuk meningkatkan luas permukaan akan dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel bahan, misalnya dengan cara mencacahnya kecuali kotoran hewan (Isroi & Yuliarti, 2009).
c). Aerasi
Pengomposan dapat berjalan dengan cepat apabila kondisi oksigen mencukupi (aerob). Aerasi alami akan bekerja pada saat terjadi peningkatan suhu, yang dapat memengaruhi udara hangat keluar dan udara yang lebih dingin masuk kedalam tumpukan bahan kompos. Namun demikian, proses ini akan sangat tergantung terhadap ketebalan tumpukan bahan. Jika tumpukan bahan terlalu banyak dan tebal maka aerasi kemungkinana berjalan lebih lambat. Aerasi juga ditentukan pada porositas dan juga kandungan air bahan (kelembaban). Apabila aerasi mengalami perhambatan maka akan terjadi proses anaerob yang menghasilkan bau yang kurang enak. Aerasi dapat ditingkatkan dengan cara melakukan pembalikan terhadap pengaliran udara di dalam tumpukan bahan organik yang hendak dikomposkan itu (Isroi & Yuliarti, 2009).
d). Porositas
Porositas merupakan rungan di antara partikel yang berda di dalam tumpukan bahan kompos. Rongga-rongga ini akan terisi dengan air dan udara yang memasok oksigen untuk proses pengomposan. Apabila rongga dipenuhi dengan air maka pasokan oksigen akan berkurang dan proses pengomposan akan terganggu (Isroi & Yuliarti, 2009).
e). Kelembapan
Kelembaban memengang peranan yang sangat penting dalam proses metabolisme mikroba dengan secara tidak langsung juga akan berpengaruh terhadap pasokan oksigen. Mikroorganisme dapat digunakan bahan organik apabila bahan organik tersebut larut dalam air. Kelembaban 40-60 % yaitu kisaran optimum untuk metabolisme mikroba, sehingga sangat bagus untuk proses pengomposan.
Apabila kelembaban di bawah 40%, maka aktivitas mikroba akan mengalami penurunan dan aktivitasnya akan lebih rendah lagi terhadap kelembaban l5%. Jika kelembabannya lebih dari 60%,maka unsur hara akan tercuci, volume udara akan berkurang. Akibatnya, aktivitas mikroba bisa menurun dan juga akan mengalami fermentasi anaerob yang menyebabkan bau yang tidak sedap (Isroi & Yuliarti, 2009).
f). Temperatur
Temperatur atau panas merupakan hal penting dalam proses pengomposan. Panas didaptkan dari proses aktivitas mikroba. Ada hubungan secara langsung antara peningkatan suhu terhadap konsumsi oksigen. Semakin tinggi panasnya, maka semakin tinggi aktivitas metabolisme, semakin banyak konsumsi oksigen, maka semakin cepat yang mengalami proses dekomposisi.
Penaikan suhu dapat terjadi secara cepat terhadap tumpukan bahan organik. Temperatur yang menunjukan antara 30-700i ini yang mengalami akfivitas pengomposan yang cepat. Suhu yang lebih tinggi dari 700C dapat membunuh sebagian mikroba dan hanya mikroba thermofilik saja yang bisa bertahan hidup. Suhu yang tinggi juga dapat membunuh mikroba patogen tanaman dan benih gulma (Isroi & Yuliarti, 2009).
g). Keasaman (pH)
Proses pemgomposan akan terjadi pada kisaran pH antara 6,5 sampai 7,5, pH kotoran ternak umumnya berkisar antara 6,8 sampai 7,4. Baktei lebih senang pada pH netral, funginya akan berkembang cukup baik pada kondisi pH agak asam. Keadaan yang seperti ini dapat menyebabkan kehilangan nitrogen, hal seperti ini bisa terjadi apabila ditambahkan kapur pada saat pengomposan berlangsung. Proses pengomposan dapat menyebabkan terjadinya perubahan pada kondisi bahan organik dan pH-nya. Sebagai contoh, proses pelepasan asam, secara temporer atau lokal, akan mengalami penurunan pH (keasaman), sedangkan produksi amonia terhadap senyawa-senyawa yang mengandung nitrogen bisameningkatkan pH pada fase awal pengomposan. pH kompos yang sudah matang akan mengalami dan mendekati netral (Isroi & Yuliarti 2009).
h). Kandungan Hara
Kandungan N, P dan K juga penting terhadap proses pengomposan. Ketiga unsur ini biasanya berada di dalam bahan kompos dari peternakan. Hara ini digunakan oleh mikroba selama proses pengornposan (Isroi & Yuliarti, 2009).
Manfaat Kompos Kotoran Sapi

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, penggunaan kotoran sapi sebagai pupuk tanaman sangat disarankan karena kotoran sapi tidak dapat merusak konstruksi tanah. Kotoran sapi adalah suatau limbah dari hewan ternak sapi yang memiliki kandungan unsur hara sangat tinggi dan berfungsi untuk perkembangan tanaman. Kotoran sapi memiliki serat yang sangat tinggi, di antaranya kandungan selulosa yang tinggi. Kandungan serat tersebut dapat meningkat ketika kotoran sapi bercampur dengan air kencing sapi. Akan tetapi, penggunaan kotoran sapi yang relatif masih segar tidak disarankan karena belum mengalami proses fermentasi.Cara Membuat Kompos dari Daun Kering Yang Mudah
Cara untuk mengembalikan kesuburan tanah yaitu dengan menggunakan pupuk organik seperti kompos. Bahan ini diyakini mampu meningkatkan kesuburan tanah. Pupuk organik dapat mengurangi dampak buruk penggunaan pupuk kimia dan sekaligus akan mengembalikan kesuburan tanah hingga kembali seperti semula (Isroi & Yuliarti, 2009).Pengunaan kotoran sapi sebagai pupuk kompos sangat disarankan di dunia pertanian. Pupuk kompos adalah pupuk organik yang tidak dapat menimbulkan dampak negatif bagi tanaman maupun lingkungan alam. Telah dijelaskan sebelumnya mengenai kandungan unsur hara yang berada di dalam kotoran sapi, yaitu nitrogen, phospor, and kalium. Ketiganya bermanfaat besar bagi pertumbuhan tanaman.
1. Manfaat Nitrogen (N) dalam Kotoran Sapi
Berikut ini merupakan manfaat nitrogen bagi pertumbuhan tanaman yaitu sebagai berikut:
- meningkatkan pertumbuhan pada tumbuhan.
- meningkatkan kadar protein terhadap tanah
- membantu proses sintesis asam amino dan juga protein yang berada pada tanaman.
- membantu respirasi dan juga proses fotosintesis di tanaman
2. Manfaat Kalium (K) dalam Kotoran Sapi
Kandungan kalium terhadap kotoran sapi juga berperan penting dalam proses pertumbuhan tanaman, di antaranya sebagai berikut:
- membentuk dan mengangkut karbohidrat di berda pada tubuh tanaman
- Berfungsi sebagai katalisator pada proses pembentukan protein
- mengatur berbagai jenis kegiatan terhadap unsur mineral yang beradad pada tanaman
- menetralkan reaksi yang terdapat di dalam sel, terutama reaksi dari asam amino organik
- meningkatkan perkembangan jaringan meristem
- mengatur pergerakan yang berda pada stomata
3. Bernilai ekonomis
Mempunyai nilai ekonomis yang lebih baik dikarena mampu menggantikan penggunaan pupuk kimia sehingga biaya produksi dapat ditekan.
4. Relatif mudah digunakan
Kotoran sapi mudah untuk dipakai dan diaplikasikan sebagai pupuk kompos bagi tanaman.
5. Penyedia unsur hara
Kotoran sapi dapat menyediakan unsur hara yang seimbang bagi tanah.
6. Tanah semakin gembur
Struktur tanah semakin gembur karena kotoran sapi dapat meningkatkan jumlah mikroba dalam tanah.
7. Menjaga pH tanah
Kotoran sapi juga bisa memperbaiki kondisi pH tanah yang mengalami kerusakan
Saya adalah seorang penulis di vagusnet.com, dengan minat dan antusiasme tinggi terhadap perkembangan teknologi, terutama dalam dunia IT. Dalam setiap tulisan, saya berusaha mencerminkan ketertarikan mendalam terhadap inovasi dan tren terkini yang membentuk arah perkembangan teknologi.